Perpusnas Soroti Tantangan Literasi Digital dan AI di Era Banjir Informasi

Gallery image

Perpusnas Soroti Tantangan Literasi Digital dan AI di Era Banjir Informasi

Jakarta - Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyoroti pentingnya penguatan literasi digital di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sebagai bagian dari upaya Perpusnas memperkuat kecakapan literasi masyarakat di era digital, perpusnas menggelar Seminar Literasi Digital 2026 mengusung tema “Literasi Digital, Inklusi Digital, dan Martabat Manusia” dalam rangka PUSPA PEMUSTAKA ke-25 sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Perpusnas, pada Kamis (21/5/2026).

 

Dalam sambutannya, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan bahwa literasi digital menjadi isu yang terus relevan karena masyarakat saat ini selain menjadi pencari informasi juga “didatangi” informasi secara terus-menerus melalui berbagai platform digital.

 

“Derasnya informasi digital bukan lagi kita yang mendatangi, tetapi kita yang didatangi secara terus-menerus dan sulit dibendung,” ujarnya.

 

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan tantangan baru terkait kemampuan masyarakat dalam mengelola informasi secara tepat dan bijak. Ia menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.

 

“Literasi adalah kemampuan mengelola informasi, baik tekstual maupun non tekstual, yang kemudian dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup,” jelasnya.

 

Ia juga menyoroti masih adanya kesenjangan akses informasi di tengah masyarakat. Tidak semua kelompok memiliki kemampuan, akses, maupun sumber daya yang memadai untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, terlebih dengan masih adanya kesenjangan digital.

 

Karena itu, lanjutnya, perpustakaan dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menjawab harapan masyarakat terhadap layanan informasi yang cepat, mudah, dan berbasis digital.

 

“Perpusnas terus berupaya menghadirkan inovasi melalui layanan digital seperti iPusnas dan Khastara karena masyarakat saat ini semakin mengandalkan informasi digital,” katanya.

 

Selain perkembangan teknologi informasi, tantangan lain yang turut menjadi perhatian adalah pemanfaatan AI dalam pengelolaan pengetahuan dan preservasi naskah kuno.

 

Ia menyebut digitalisasi koleksi naskah nusantara masih terus berjalan dan teknologi AI diharapkan dapat membantu proses preservasi tersebut. “Preservasi naskah yang baru terdigitalisasi sekitar 16,7 persen masih menyisakan 83,3 persen yang akan terus kami upayakan melalui dukungan teknologi AI,” ungkapnya.

 

Ia pun menyambut baik kehadiran Mega Subramaniam sebagai narasumber yang dinilai dapat memberikan perspektif dan pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi untuk penguatan kecakapan literasi digital masyarakat Indonesia.

 

Seminar yang digelar secara luring dan daring tersebut menghadirkan Guru Besar University of Maryland College of Information, Mega Subramaniam, Direktur Eksekutif American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), Sandra Hamid, dosen pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), pustakawan, serta pegiat literasi.

 

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata oleh Kepala Perpusnas didampingi Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Adriati, kepada narasumber Mega Subramaniam dan Direktur Eksekutif AMINEF Sandra Hamid. *** (SA/Ed:DRS/Dok:ATK)

Galeri