Perpusnas Tekankan Penerapan Instrumen Akreditasi Berbasis Kinerja
Makassar, Sulawesi Selatan - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menekankan pentingnya penerapan instrumen akreditasi perpustakaan berbasis kinerja dalam Lokakarya Pemutakhiran Instrumen Akreditasi yang digelar di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa (18/11/2025).
Kepala Perpusnas menegaskan bahwa perpustakaan tidak hanya dipandang dari dimensi fisiknya, melainkan juga dari sisi nonfisik. “Selama ini jika kita berbicara akreditasi perpustakaan, mayoritas penilaian diberikan pada dimensi fisik seperti bangunan dan koleksi, sementara kita sering kali abai pada aktivitas, layanan, dan kreativitas yang dikembangkan perpustakaan,” tegasnya.
Kepala Perpusnas turut menyoroti bahwa instrumen akreditasi sebelumnya belum memenuhi prinsip evaluasi yaitu validitas, reliabilitas, dan praktikalitas. Menurutnya, masih ditemukan instrumen yang tidak valid karena tidak mengukur apa saja yang benar-benar dimiliki atau dikerjakan oleh perpustakaan.
Instrumen juga perlu memenuhi prinsip reliabilitas yaitu terpercaya dan konsisten. Artinya, hasil penilaian dua atau lebih perpustakaan yang memiliki kondisi yang sama, harus serupa karena instrumen yang digunakan memang dapat diandalkan. Sementara itu, Kepala Perpusnas menyatakan dalam prinsip praktikalitas, instrumen harus bersifat praktis, mudah dimengerti, dan dilaksanakan baik oleh asesor maupun asesi.
“Saya ingin mengedepankan variabel aktivitas sebelum berbicara urusan fisik. Karena itu, proporsi penilaian perlu diubah, dimensi fisik hanya mendapat porsi 30%, sementara dimensi nonfisik 70%,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai lebih adil bagi perpustakaan yang secara fisik tidak menonjol namun memiliki layanan dan aktivitas yang sangat dinamis, kreatif, dan berdampak luas. “Perpustakaan seperti ini layak mendapatkan apresiasi tinggi. Saya ingin instrumen akreditasi mampu merefleksikan bahwa kita harus memihak pada aktivitas bukan kepada kesunyian,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Ichsan Mustari, menyampaikan harapannya agar pemutakhiran instrumen akreditasi ini dapat menguatkan mutu perpustakaan di Provinsi Sulawesi Selatan. “Melalui kegiatan ini, saya berharap asesor tidak hanya menjadi penilai, tapi juga pembina agar perpustakaan kita bisa memenuhi standar nasional,” ungkapnya.
Di sisi lain, Direktur Direktorat Standardisasi dan Akreditasi Perpustakaan Perpusnas, Made Ayu Wirayati, menyampaikan dalam pemutakhiran instrumen akreditasi, tiga komponen pendukung dari instrumen sebelumnya dilebur ke dalam komponen lain, sehingga kini terdapat enam komponen utama yaitu: Koleksi, Sarana dan Prasarana, Pelayanan, Tenaga, Penyelenggaraan, dan Pengelolaan.
“Fokus penilaian berbasis kinerja ini menekankan pada kebermanfaatannya bagi pemustaka, sehingga diharapkan mampu menggambarkan capaian dan dampak nyata perpustakaan di masyarakat,” imbuhnya.
Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta, yang terdiri atas 64 perwakilan perpustakaan umum, khusus, perguruan tinggi, dan sekolah, serta 36 asesor akreditasi Provinsi Sulawesi Selatan.
Reporter: Gilang Arwin Saputri
Dokumentasi: Ranny Kusumawardhani






