Perpusnas Transformatif: e-Deposit Perkuat Regulasi Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam

Gallery image

Perpusnas Transformatif: e-Deposit Perkuat Regulasi Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam

Jakarta– Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar kegiatan Praktik Baik Pengembangan Koleksi Digital bertema “Membangun Ekosistem Digital melalui Serah Simpan Karya”. Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat fungsi kelembagaan, khususnya fungsi deposit, dalam menjaga dan melestarikan seluruh karya bangsa termasuk karya rekam digital yang terus berkembang pesat.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mewujudkan visi Perpusnas 2025–2029. “Menjadi perpustakaan yang transformatif dalam meningkatkan budaya baca dan literasi untuk mewujudkan bangsa bermartabat, bersama Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045,” imbuhnya menyebutkan visi Perpusnas, Senin (24/11/2025).

“Rata-rata terbitan berdasarkan jumlah ISBN sepanjang 2020–2024 mencapai 102.905 judul per tahun, dengan total nomor ISBN yang diterbitkan mencapai 111.410 nomor ISBN. Penerbitan tertinggi terjadi pada masa pandemi tahun 2021, yaitu 147.416 judul, yang membuat Indonesia masuk ke dalam urutan 10 besar penerbitan ISBN secara internasional,” jelasnya

Ia menambahkan, berdasarkan layanan ISBN tahun 2024, Perpusnas telah menerbitkan 110.346 ISBN. Sementara itu, jumlah nomor ISBN yang dikeluarkan mencapai 118.157 nomor. Dari total tersebut, sebanyak 80.393 judul merupakan terbitan dalam format buku cetak, atau sekitar 68% dari keseluruhan ISBN yang diterbitkan. Sisanya, sebanyak 37.776 judul atau 32%, merupakan terbitan non buku, termasuk e-book dalam format PDF.

“Mulai 2025, Perpusnas menetapkan kebijakan baru bahwa setiap pengadaan buku digital wajib dilengkapi ISBN, sebagai bagian dari upaya pengelolaan koleksi digital serta peningkatan kualitas pendataan karya rekam nasional,” tuturnya.

Menyambut kebijakan tersebut, Direktur Deposit dan Pengembangan Koleksi Perpustakaan, Indra Astuti menyampaikan, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi melalui media sosial dan Artificial Intelligent (AI) menjadikan peluang, sekaligus tantangan bagi perpustakaan. 

Menurutnya, di tengah dinamika tersebut perpustakaan harus terus beradaptasi agar tetap relevan sebagai pusat pengetahuan, pelestari budaya bangsa dan ruang pembelajaran yang inklusif.

“Salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional adalah pengembangan e-Deposit, yaitu sistem pendataan satu pintu serah simpan karya cetak dan karya rekam,” jelasnya. 

Ia menjelaskan, e-Deposit adalah sistem yang dikembangkan oleh Perpusnas untuk memfasilitasi kegiatan pengumpulan dan pengelolaan karya cetak dan karya rekam. Sistem tersebut merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam yang dipublikasikan di Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman menyampaikan praktik penilaian buku di sektor perbukuan yang kerap meminta penerbit menyerahkan PDF lengkap karya dengan penambahan watermark. Menurutnya, hal tersebut perlu dicermati karena berkaitan dengan ranah primary use dan secondary use karya cipta.

“Menurut Undang-Undang Hak Cipta, penggunaan primer merupakan kewenangan penerbit dan penulis. Sementara, penggunaan sekunder mensyaratkan adanya perjanjian tersendiri. Distribusi PDF di luar mekanisme yang diatur, berpotensi melampaui kewenangan yang ditetapkan,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur CV. Graha Ilmu, Jozep Edyanto mengusulkan pembuatan perangkat lunak terintegrasi  untuk mengelola pengajuan ISBN dan e-ISBN, hingga pengelolaan arsip digital

“Dengan sistem terintegrasi, arsip digital dapat dimanfaatkan untuk koleksi perpustakaan digital Perpusnas, tanpa melanggar ketentuan Hak Kekayaan Intelektual,” jelasnya.

Editor Goresan Pena, Khanis Selasih menyampaikan bahwa respon masyarakat terhadap e-book menunjukan tren yang semakin positif. Kebiasaan membaca melalui gawai menjadi salah satu faktor utama.

“E-book memudahkan pembaca membawa banyak koleksi dalam satu perangkat. Selain itu, fleksibilitas dan harga yang lebih terjangkau membuat pembaca semakin menyukai format ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, pertumbuhan signifikan terlihat pada pembaca muda, pekerja profesional, dan pengguna dengan kebutuhan akses cepat. E-book kini berperan sebagai alternatif, sekaligus pelengkap buku cetak.

 

Reporter: Anastasia Lily & Qintara Amalia

Editor: Dyah R. Sugiyanto

Dokumentasi: Andri Tri Kurnia

Galeri