Perpusnas Wujudkan Perpustakaan sebagai Ruang Aman Digital

Gallery image

Perpusnas Wujudkan Perpustakaan sebagai Ruang Aman Digital

Jakarta–  Di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan memiliki peran strategis. Perpustakaan sebagai ruang aman yang menjaga anak-anak saat berinteraksi di ruang digital, karena di dalamnya ada kurasi ilmu pengetahuan yang dapat melindungi anak-anak dari paparan informasi negatif.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Sekolah/Madrasah dan Perguruan Tinggi (P3SMPT) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Taufiq A. Gani. Ia menyampaikannya dalam kegiatan Webinar Forum Perpustakaan Sekolah/Madrasah Tahun 2025 dengan tema Perpustakaan: Ruang Aman Digital untuk Siswa yang diselenggarakan secara daring pada hari Selasa, (9/12/2025).

“Perpustakaan dan para pustakawan harus ikut berpenetrasi di dalam domain internet. Kita harus hadir di ruang digital dengan membawa informasi-informasi positif untuk mengurangi dampak arus informasi yang negatif,” jelasnya.

Taufiq menjelaskan, mewujudkan ruang aman digital bagi anak merupakan hal yang penting. Berdasarkan data dalam Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah dalam Jaringan 2025-2029, terdapat sebanyak 74,8% anak usia 7–17 tahun telah mengakses internet; 22% pernah melihat konten pornografi; dan 31% menunjukkan gejala kecanduan digital.

Angka-angka tersebut, menurutnya, menjadi alarm bagi semua pihak. “Regulasi tidak akan efektif tanpa penerapan nyata di sekolah dan perpustakaan sekolah; dua ruang awal tempat anak belajar mengenal teknologi dan nilai-nilai yang tergantung di dalamnya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menanamkan digital integrity. Upaya tersebut untuk menciptakan generasi-generasi penerus yang benar-benar berpegang teguh pada nilai-nilai budaya, agama, dan nasionalisme.

“Di sinilah peran perpustakaan hadir. Di mana jika setiap perpustakaan mampu menjadi ruang aman digital, bangsa ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya pandai membaca tetapi juga mampu berpikir jernih, beretika, dan berdaya di tengah arus teknologi yang tidak pernah berhenti,” tuturnya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum sekaligus Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Forum Perpustakaan Sekolah dan Madrasah Indonesia (FPSMI), Fientje Watak, menjelaskan bahwa FPSMI memiliki visi sebagai organisasi yang tangguh, mandiri, netral, fleksibel, bertanggung jawab dan profesional dalam membangun pendidikan sebagai upaya mencerdaskan bangsa dan bernegara.

“Adapun salah satu misi forum ini adalah membangun kemitraan dengan Perpusnas dalam melaksanakan pembinaan, pengembangan, dan penjaminan mutu perpustakaan sekolah/madrasah se-Indonesia, serta pemangku kepentingan dalam peningkatan kualitas perpustakaan sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Yudho Giri Sucahyo, memaparkan peran perpustakaan sekolah sekarang ini tidak hanya sebagai tempat untuk membaca atau meminjam buku semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi tempat belajar, berinteraksi, bereksplorasi secara digital dengan aman, bertanggung jawab, dan etis.

Menurutnya, hal tersebut dapat diwujudkan dengan penyediaan fasilitas TIK, akses internet yang terarah, serta pendampingan dari pustakawan atau guru untuk pengembangan literasi digital. Dengan demikian, ia menambahkan, siswa dapat meningkatkan kemampuan menilai keaslian informasi, menjaga keamanan data pribadi dan berperilaku sopan di dunia maya.

“Tren teknologi perpustakaan saat ini menuntut pustakawan menguasai keterampilan ganda. Selain mampu memelihara buku dan koleksi cetak, pustakawan juga perlu memahami pengelolaan koleksi digital, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), serta penyelenggaraan library automation guna meningkatkan mutu layanan perpustakaan,” pungkasnya.

 

Reporter: Anastasia Lily

Editor: Dyah R. Sugiyanto

Dokumentasi: Prakas Agrestian

Galeri