Perpustakaan, Investasi Jangka Panjang untuk Perdamaian
Salemba, Jakarta - Perpustakaan yang kuat adalah fondasi masyarakat yang damai dan sejahtera. Pustakawan adalah penjaga gerbang pengetahuan sekaligus agen perdamaian bangsa.
Demikian disampaikan Pustakawan Ahli Utama (Pustama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Yuliatry Bunga, saat memberikan sambutan apel pagi secara daring, Senin (29/9/2025).
Dalam arahannya, Pustama yang akrab disapa Tery ini mengajak untuk merenungkan peran mulia profesi ini yang bukan hanya menjaga buku dan menyediakan informasi, tetapi sebagai agen perdamaian dalam masyarakat yang semakin kompleks ini.
“Ketika kita melihat sekeliling, kita saksikan berbagai konflik dan ketegangan yang mendera bangsa ini. Polarisasi sosial, intoleransi, dan penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab seolah menjadi fenomena sehari-hari. Di tengah situasi inilah, perpustakaan hadir sebagai oasis perdamaian yang menawarkan harapan baru,” ungkapnya.
Menurutnya, perpustakaan berperan sebagai benteng terakhir melawan kebodohan yang seringkali menjadi akar dari konflik sosial. Hakikat perpustakaan adalah ruang demokratis dan netral yang memberikan akses ilmu pengetahuan plural bagi seluruh kalangan dan usia tanpa diskriminasi.
“Keadilan akses informasi inilah yang menjadi fondasi perdamaian. Ketika masyarakat memiliki akses yang setara terhadap pengetahuan, kesenjangan sosial dapat dikurangi. Ketika semua orang dapat membaca dan memahami informasi yang akurat, maka hoax dan fitnah akan sulit berkembang,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, Tery turut menyoroti peristiwa penyitaan buku di sejumlah daerah. Menurutnya, peristiwa ini bukan hanya sekedar tindakan administratif, tetapi merupakan ancaman nyata terhadap kebebasan membaca, kebebasan berpikir, dan hak masyarakat untuk mengakses informasi.
“Sebagai pustakawan, kita tidak bisa tinggal diam menyaksikan hal ini. Kita adalah garda terdepan dalam mempertahankan kebebasan intelektual. Ketika buku-buku disita tanpa dasar hukum yang jelas, ketika akses terhadap ide dan pemikiran dibatasi secara sepihak, maka sesungguhnya kita sedang mundur dari cita-cita bangsa yang berperadaban,” tegasnya.
Tery menekankan langkah penyitaan buku ini dapat menjadi kemunduran dalam membangun perdamaian dan dapat menciptakan bibit konflik di masa depan. Karena itu, pustakawan dituntut untuk bersuara secara cerdas, kritis, dan terukur, bukan provokatif atau konfrontatif.
Ia menambahkan pustakawan tidak bisa lagi puas dengan peran penjaga buku yang pasif. Mereka harus tampil sebagai intelektual aktif yang mampu berargumentasi, bernegosiasi, dan berinovasi untuk kepentingan masyarakat.
“Kita adalah penjaga api peradaban yang harus dilengkapi dengan senjata intelektual yang mumpuni. Ketika dunia di luar sana dipenuhi dengan suara-suara yang ingin membungkam, kita harus menjadi suara yang membuka dengan argumentasi yang solid dan data yang akurat. Ketika ada yang ingin mempersempit ruang berpikir, kita harus memperluas cakrawala dengan inovasi-inovasi baru dalam layanan perpustakaan. Ketika ada yang takut dengan keberagaman, kita harus merayakannya dengan program-program kreatif yang menunjukkan kekuatan dari perbedaan,” pungkasnya.
Reporter: Gilang Arwin Saputri






