Perpustakaan, Penjaga Nyala Peradaban Bangsa
Jakarta – Humas Perpusnas. “Apakah saya melakukan ini sekadar untuk menjalani rutinitas birokrasi? Atau ini ikhtiar memupuk semangat baru untuk menjalani mandat besar yang kita panggul dalam menjaga nyala peradaban bangsa?”
Sebuah pertanyaan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, tersebut membuka apel pagi, pada Senin (26/1/2026). Kalimat reflektif itu mengajak para pegawai di lingkungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memaknai profesi sebagai abdi negara.
Dalam amanatnya, Suharyanto mengajak seluruh pegawai Perpusnas menggeser perspektif dalam melihat rutinitas tugas. Menurutnya, pegawai bukan lagi sebagai petugas birokrasi, melainkan arsitek perajut peradaban dan garda terdepan pengelola pengetahuan.
Ia menekankan bahwa setiap buku, manuskrip yang dikonservasi, dan layanan literasi informasi, adalah fondasi rumah peradaban Indonesia. “Perpusnas tidak hanya sekadar gedung layanan, melainkan pusat rujukan global untuk koleksi Indonesiana,” tegasnya.
“Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa setiap helai kertas, keropak lontar, dan bit data digital yang ada di sini, mampu memberikan jawaban atas rasa ingin tahu dunia,” rincinya. Menurutnya, hal ini menjadi jalan alternatif dalam menjawab kegalauan pengetahuan.
Lebih lanjut, Suharyanto mengingatkan bahwa predikat Perpusnas sebagai Gedung Layanan Tertinggi di Dunia tidak boleh menjebak pada kebanggaan semu. Menurutnya, pencapaian tertinggi perpustakaan tidak hanya terletak pada kemegahan gedung dan kecanggihan teknologi, namun pada kedalaman khazanah pengetahuan yang dikelola.
Oleh sebab itu, ia menggambarkan, pencapaian perpustakaan sebagai rumah peradaban bangsa turut dibangun dari sisi manusianya. Ia menilai peran pustakawan, arsiparis, filolog, pranata komputer, dan berbagai profesi lainnya yang ada di perpustakaan menjadi krusial. “Kita adalah pemberi cakrawala, menavigasi informasi, agar koleksi jutaan eksemplar yang ada tidak menjadi benda mati,” tuturnya.
Menutup amanatnya, Suharyanto mengajak seluruh pegawai Perpusnas menjadikan apel pagi sebagai momentum untuk memperkokoh niat pengabdian, memperkuat sinergi antarunit kerja, serta menjaga integritas dalam melaksanakan tugas.
“Kita bukan hanya aparatur yang bekerja di balik meja dan bernaung di ruangan yang nyaman. Kita adalah garda terdepan yang memastikan bahwa setiap anak bangsa memiliki akses terhadap cahaya ilmu pengetahuan. Mari terus perkuat koleksi, pelayanan, dan kepekaan kita, agar Indonesia benar-benar berdaulat secara intelektual,” pungkasnya.*** (GAS/Ed:DRS/Dok.GAS)






