Renstra Perpusnas 2025–2029: Transformasi Menuju Perpustakaan Transformatif Indonesia Emas 2045
Salemba, Jakarta—Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan pentingnya perencanaan strategis yang dilandasi nilai keimanan dan tanggung jawab moral saat membuka kegiatan Sosialisasi Rencana Strategis (Renstra) Perpustakaan Nasional Tahun 2025–2029 yang berlangsung di Aula Perpusnas, Jalan Salemba Raya No. 28A, Jakarta Pusat, Senin (3/11/2025).
Kegiatan ini menjadi tindak lanjut atas diundangkannya Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2025 tentang Renstra 2025–2029, yang menjadi pedoman utama pelaksanaan program, kegiatan, serta evaluasi kinerja seluruh unit kerja di lingkungan Perpusnas.
Aminudin menyampaikan bahwa penyusunan Renstra tidak sekadar memenuhi kewajiban regulatif, tetapi merupakan wujud refleksi diri dan komitmen peningkatan kinerja kelembagaan. Ia mengingatkan pentingnya membangun kesadaran spiritual dalam perencanaan agar setiap langkah organisasi bernilai ibadah.
“Indahlah kalian lihat, indahlah kalian perhatikan, indahlah kalian rencanakan apa yang akan kalian kerjakan. Ayat Al-Qur’an ini bukan sekadar ajakan, melainkan perintah agar kita merencanakan kehidupan dengan lebih baik. Begitu juga dalam konteks organisasi, perencanaan strategis adalah bentuk ketaatan pada perintah untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perubahan harus dipandang sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan beradaptasi dengan dinamika zaman. “Perubahan adalah keniscayaan. Karena itu, penyesuaian program adalah bagian dari proses menjadi lebih baik. Jangan menolak perubahan, karena ketika hati dan pikiran tertutup, maka ilmu dan kesempatan juga tidak akan sampai kepada kita,” titahnya.
Lebih lanjut, Aminudin memaparkan tiga program prioritas utama Perpusnas 2025–2029, yaitu penguatan budaya baca untuk peningkatan literasi masyarakat, pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya bangsa melalui program Pengarusutamaan Naskah Nusantara, serta embinaan dan pemberdayaan perpustakaan melalui program standardisasi dan akreditasi.
Terkait tantangan ke depan, ia menyoroti keterbatasan anggaran yang menuntut efisiensi dan kreativitas dalam perencanaan. “Dari total anggaran tahun 2026 sebesar Rp370 miliar, ruang fiskal kita hanya sekitar Rp75 miliar. Maka kita harus menentukan program yang benar-benar prioritas dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, tanpa meratapi keterbatasan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Aminudin pun mengajak pegawai untuk tidak perlu meratapi anggaran dan tetap mengerjakan apa yang bisa dilakukan dengan kapasitas yang ada sebagai wujud keadilan dan bentuk tanggung jawab kepada negara.
Baginya, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan berhenti berinovasi. “Kami mencoba melebarkan sayap mencari peluang pendanaan non-APBN. Mudah-mudahan ada pihak yang bisa bekerja sama dengan Perpusnas untuk membangun sumber daya manusia dan melestarikan budaya bangsa,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, memaparkan proses penyusunan Renstra 2025–2029 yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Rancangan Renstra disusun melalui Focus Group Discussion (FGD) di empat daerah, meliputi Padang, Bali, Jakarta, dan Makassar, serta harmonisasi dengan Kementerian Keuangan, KemenPANRB, dan Kementerian Hukum dan HAM.
Ia menjelaskan bahwa Renstra Perpusnas selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, khususnya pada Prioritas Nasional 4 dan 8, yakni pengembangan sumber daya manusia serta pelestarian warisan budaya. “Perpusnas berperan dalam mendukung dua prioritas nasional itu melalui program penguatan budaya literasi untuk kreativitas dan inovasi, serta pelestarian dan pemajuan kebudayaan,” terangnya.
Target capaian dalam dua indikator utama juga dijabarkan olehnya, yaitu Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada tahun 2025 sebesar 70,50 dan meningkat menjadi 72,50 pada 2029. Sedangkan untuk Tingkat Kegemaran Membaca (TKM), targetnya naik dari 71,30 menjadi 75,50.
Di akhir paparannya, Joko menekankan perlunya penyusunan Manual Indikator Kinerja Utama (IKU) agar seluruh capaian kinerja dapat diukur secara akurat. “Manual IKU penting untuk menyamakan persepsi dalam mengukur capaian target kinerja. Dengan pemahaman yang sama, kita bisa memastikan seluruh sasaran strategis 2025–2029 tercapai secara terukur dan konsisten,” ucapnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan, Edi Wiyono, turut menyampaikan muatan-muatan yang menjadi arah kebijakan Renstra 2025–2029. Ia juga menyampaikan visi besar Perpusnas dalam Renstra 2025–2029, yaitu “Menjadi perpustakaan yang transformatif dalam meningkatkan budaya baca dan literasi untuk mewujudkan bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.”
Reporter: Alditta Khoirun Nisa / Qintara
Dokumentasi: Andri Tri Kurnia
Galeri










