Sebut Literasi Tidak Hanya Kemampuan Membaca Teks, Kepala Perpusnas Ajak Mahasiswa Cakap Memilah Informasi
Bandung, Humas Perpusnas - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menyebut masyarakat Indonesia belum sepenuhnya masuk dalam kategori literat. Hal ini dikarenakan masih rendahnya budaya baca. Pasalnya, rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca sekitar 5,91 buku per tahun dengan waktu membaca yang sangat terbatas.
"Waktu membaca hanya sekitar 129 jam per tahun, kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai masyarakat literat," ungkapnya pada Kuliah Umum Institut Agama Islam (IAI) Persis Bandung, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami informasi tekstual dan non tekstual, memahami perbedaan budaya, berpikir kritis, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan gagasan baru. "Kemampuan berpikir tingkat tinggi inilah yang menjadi tujuan utama Pendidikan," lanjutnya.
Dalam era digital, Kepala Perpusnas mengatakan tantangan besarnya yakni berupa banjir informasi yang datang dari berbagai sumber, terutama media sosial. Arus informasi yang begitu cepat menuntut masyarakat memiliki kemampuan berpikir kritis serta kecakapan memilah informasi yang benar dan dapat dipercaya.
"Mahasiswa harus mampu membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber informasi, serta menggunakan informasi secara bijak. Jangan langsung percaya atau menyebarkan informasi tanpa verifikasi," katanya.
Dalam era dominasi data, mahasiswa harus memiliki kemampuan membedakan fakta dan opini, mengenali hoaks, memahami etika digital atau netiquette, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Literasi digital harus dibangun melalui kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan konten yang bermanfaat.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak menerima informasi secara mentah-mentah, termasuk informasi yang diperoleh dari mesin pencari maupun akal imitasi (AI). AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi tidak boleh menggantikan proses berpikir, analisis, dan kreativitas manusia.
“AI adalah alat bantu. Jangan sampai seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin. Mahasiswa tetap harus membaca, menganalisis, dan mengembangkan gagasan secara mandiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Kepala Perpusnas menyampaikan bahwa mahasiswa yang literat memiliki beberapa karakter utama, diantaranya gemar membaca dan belajar, berpikir kritis, mampu mengolah data dan informasi, memiliki literasi digital, mampu berkomunikasi dan berkarya, serta berakhlak dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Rektor IAI Persis Bandung, Jajang A. Rohmana, berharap melalui kuliah umum ini dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa terkait literasi. Ka Menurutnya, Persatuan Islam (Persis) memiliki tradisi literasi yang kuat, dibuktikan oleh para tokohnya yang produktif menulis buku dan karya ilmiah
"Terlebih di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Kemajuan teknologi tidak boleh ditolak, melainkan harus dimanfaatkan secara bijak,," harapnya. *** (WM/Ed: DRS/Dok:IST)
Galeri









