SIARAN PERS: Perpusnas Salurkan Rp103,72 Miliar untuk Penguatan Literasi di Sumatera Selatan
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) terus memperkuat literasi di Provinsi Sumatera Selatan melalui dukungan sarana dan prasarana perpustakaan serta berbagai program penguatan budaya baca masyarakat. Sepanjang 2019–2025, dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Nonfisik subbidang perpustakaan di Sumatera Selatan mencapai Rp103,72 miliar. Dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat layanan perpustakaan sekaligus meningkatkan budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat.
Jakarta, 5 September 2026 — Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, dalam Festival Literasi Sumatera Selatan 2026 di Palembang, Sabtu (5/9/2026). Adin mengatakan, dukungan Perpusnas berjalan seiring dengan komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang menunjukkan keberpihakan terhadap pembangunan literasi sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Menurutnya, konsistensi tersebut tercermin dalam berbagai capaian Sumatera Selatan pada bidang perpustakaan dan literasi. Salah satunya, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Sumatera Selatan menempati peringkat ketiga secara nasional. “Ini merupakan sebuah prestasi yang patut kita apresiasi dan menjadi bukti nyata bahwa pembangunan literasi telah menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah,” ujar Adin.
Dukungan Perpusnas terhadap Sumatera Selatan tidak hanya diwujudkan melalui DAK Fisik dan Nonfisik, tetapi juga melalui berbagai program penguatan ekosistem literasi. Dukungan tersebut antara lain mencakup pengembangan perpustakaan, bantuan buku bacaan bermutu, penguatan Relawan Literasi Masyarakat (Relima), serta KKN Tematik Literasi.
Adin menjelaskan bahwa pembangunan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk tingginya angka kemiskinan dan rendahnya produktivitas. Karena itu, penguatan budaya baca dan kecakapan literasi menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, pengalaman sejumlah negara di Eropa dan Asia Timur menunjukkan bahwa kemampuan membaca, memahami dan mengolah informasi, serta kecakapan literasi memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan masyarakat. “Karena itu, tidak salah apabila pada hari ini kita membangun kolaborasi dan ekosistem literasi. Literasi adalah modal pembangunan sekaligus modal sosial bagi Sumatera Selatan untuk terus bersinar,” katanya.
Adin menambahkan, Sumatera Selatan memiliki modal sejarah dan kebudayaan yang kuat. Jejak peradaban Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam menunjukkan panjangnya tradisi pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban di wilayah tersebut.
“Masyarakat Sumatera Selatan harus menjadi masyarakat yang terdepan, masyarakat yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang kuat, yang dibangun melalui penguatan budaya baca dan kecakapan literasi. Maka, tema ‘Literasi Sumatera Selatan Bersinar’ sangat relevan karena menggambarkan semangat Sumatera Selatan untuk terus maju melalui penguatan literasi,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyebut Sumsel telah menjadi salah satu ikon literasi nasional. Menurutnya, gerakan literasi harus melampaui kegiatan seremonial dan menghasilkan program, produk, serta prestasi.
“Kalau kita hanya berpedoman bahwa literasi itu membaca dan menulis, maka akan menjadi sempit. Bagaimana literasi ini kita jadikan cara untuk mengolah informasi, mengambil keputusan, serta meningkatkan kualitas diri dan masyarakat,” ungkap Herman.
Ia menambahkan, capaian peringkat ketiga nasional dalam TKM serta penghargaan literasi keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencerminkan konsistensi gerakan literasi Sumatera Selatan. “Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita semua. Hal tersebut tidak terlepas dari kerja keras dan konsistensi gerakan literasi di Sumatera Selatan, terutama sejak hadirnya Duta Literasi pada tahun 2019,” jelasnya.
Herman menilai kesadaran literasi di Sumsel tumbuh dari keluarga, pendidikan formal, hingga pengalaman kehidupan sehari-hari. “Ilmu pengetahuan pertama-tama diperoleh melalui pendidikan dalam keluarga. Kedua, melalui pendidikan di sekolah, dan ketiga melalui pengalaman yang kita dapatkan dalam kehidupan dan alam terbuka. Itulah sejatinya literasi,” tuturnya.
Galeri










