Sumatra Selatan, Provinsi Pertama yang Berkunjung ke Perpusnas pada 2026
Jakarta - Humas Perpusnas, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz menerima audiensi Duta Literasi, Bunda Literasi, dan Bapak Literasi se-Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), di Jakarta, Kamis (5/2/2026). Kunjungan rombongan yang berjumlah sekitar 170 peserta, termasuk perwakilan DPD dan DPRD Provinsi Sumsel tersebut, menjadi rombongan provinsi pertama yang berkunjung ke Perpusnas pada 2026.
Audiensi ini merupakan tindak lanjut permohonan pertemuan untuk melaporkan capaian program literasi. Melalui pertemuan tersebut, kolaborasi antara Perpusnas dan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan budaya baca masyarakat semakin erat.
Aminudin menekankan bahwa gerakan literasi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan aksi nyata yang melibatkan pemikiran dan tindakan secara kolektif. “Kerja literasi itu adalah kerja akal, pikiran, dan raga. Ada pikirannya, tetapi tidak digerakkan, tidak ada aksinya, maka tidak ada gerakan literasi. Kerja literasi ini adalah kerja kolaboratif. Tidak mungkin kita bekerja sendiri-sendiri, harus bersama-sama, gerakan bersama untuk tujuan bersama,” tegasnya.
Dalam audiensi tersebut juga dibahas dukungan program literasi di daerah, termasuk keberadaan lima kabupaten di Sumatra Selatan yang belum memiliki gedung perpustakaan. Kepala Perpusnas menjelaskan bahwa sejak 2025 tidak lagi tersedia Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik di Perpusnas, melainkan DAK nonfisik dengan kriteria tertentu, dan saat ini baru sembilan kabupaten/kota di provinsi tersebut yang memperoleh dukungan tersebut.
Selain itu, diperkenalkan pula lima Relawan Literasi Masyarakat (ReLima) dari kabupaten/kota di Sumatra Selatan yang turut memperkuat gerakan literasi berbasis komunitas. “Dari Sumatra Selatan saat ini ada lima ReLima. Mereka menjadi penggerak koordinasi gerakan literasi di daerah, dan jumlahnya akan terus ditingkatkan,” tuturnya.
Di samping ReLima, Perpusnas menjalankan program KKN Tematik Literasi yang melibatkan mahasiswa. “Tahun 2025 ada sekitar seribu desa yang menjadi lokus KKN Tematik Literasi, melibatkan 21 perguruan tinggi negeri, dengan sekitar 15 mahasiswa di setiap lokasi,” paparnya.
Aminudin turut mengatakan bahwa program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) juga terus diperluas. “Pada 2026 direncanakan ada sekitar 750 lokus pelaksanaan TPBIS untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pemanfaatan perpustakaan,” katanya.
Selama audiensi berlangsung, ia juga mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat komunikasi dengan wakil rakyat terkait kegiatan literasi. “Saya mengajak agar setiap kegiatan literasi di daerah diinformasikan kepada DPR maupun DPD. Dengan begitu dukungan kebijakan dan pemberitaan di tingkat pusat bisa semakin kuat,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatra Selatan Fitriana menyebut bahwa jumlah penggerak literasi terus bertambah hingga tingkat akar rumput. “Sampai tahun 2023, Bunda Literasi kecamatan serta desa/kelurahan yang telah dikukuhkan mencapai 2.334 orang, dan bertambah 339 orang pada 2025,” ungkapnya.
Capaian pembangunan literasi daerah juga menunjukkan tren peningkatan, seperti Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Provinsi Sumatera Selatan meningkat dari 14,42 pada 2023 menjadi 15,18 pada 2024.
Ia juga menyampaikan dukungan pemerintah daerah terhadap program TPBIS yang telah menjangkau ratusan perpustakaan desa. Namun demikian, tantangan infrastruktur perpustakaan di beberapa wilayah juga tersorot. “Ada daerah yang belum memiliki gedung layanan perpustakaan representatif, seperti Kabupaten Oku Selatan dan Kota Pagar Alam yang belum pernah menerima DAK fisik. Kami berharap ke depan dapat menjadi prioritas,” katanya.
Tidak lupa Fitriana menampilkan praktik inklusi sosial melalui gerakan literasi bahasa isyarat di daerahnya. “Alhamdulillah ada delapan ASN penyandang disabilitas yang kini aktif menggerakkan literasi bahasa isyarat di berbagai instansi,” ujarnya.
Ia berharap dukungan berkelanjutan dari Perpusnas terhadap penguatan program literasi daerah, melalui program Bunda dan Bapak Literasi sebagai bentuk langkah implementasi dari program prioritas nasional Perpusnas dalam pembangunan sumber daya manusia berbasis literasi. *** (AKN/Ed.DRS/Dok.AA)
Galeri









