Tenaga Perpustakaan Sekolah Rakyat, Penggerak Perubahan yang Memutus Rantai Kemiskinan

Gallery image

Tenaga Perpustakaan Sekolah Rakyat, Penggerak Perubahan yang Memutus Rantai Kemiskinan

Cilandak, Jakarta Selatan— “Bahagia sekali saya hari ini bisa bersama para penggerak perubahan yang akan berjuang, sesuai tekad Presiden, untuk memutus garis kemiskinan,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, pada sambutannya di Pembukaan Pelatihan Pengenalan  Pengelolaan Perpustakaan Bagi  Tenaga Perpustakaan Sekolah Rakyat, Selasa (11/11/2025).

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kementerian Sosial (Kemensos) yang bertujuan membekali para pengelola Sekolah Rakyat dengan dasar-dasar kepustakawanan, agar mampu mengelola perpustakaan secara efektif dan mendukung gerakan literasi masyarakat.

 

Di hadapan 332 personil dari 166 Sekolah Rakyat yang hadir dalam pelatihan ini, Aminudin menjelaskan bahwa Perpustakaan bukanlah tempat buangan, yang berisi orang-orang yang bermasalah dan tidak kreatif. Sebaliknya, Perpustakaan adalah tempat di mana tersimpan informasi yang diperlukan untuk pengembangan ilmu baru.

 

“Saya menjadi seperti sekarang karena saya pengguna perpustakaan. Saya hidup di perpustakaan. Ketika sekolah, saya bisa sampai tengah malam, bisa lewat tengah malam masih ada di perpustakaan,” ungkapnya lagi.

 

Sementara itu, Aminudin memaparkan bahwa selain sebagai tempat informasi untuk pengembangan ilmu baru, perpustakaan juga memiliki makna lain. “Perpustakaan adalah tempat para pemustaka mengembangkan kreativitas dan Perpustakaan merupakan wahana untuk konfirmasi kegalauan berpikir,” ungkapnya.

 

“Mengelola perpustakaan adalah mengelola ilmu pengetahuan, bukan mengelola buku yang kemudian akan ditumpuk, lalu dibiarkan. Perpustakaan harus diberdayakan,” tandasnya. 

 

Perpusnas sudah menyiapkan buku yang akan dibaca oleh anak-anak. Sekitar 1500 buku untuk SD dan 1000 untuk SMP dan SMA, juga rak buku dan 250 koleksi digital. “Keyakinan saya adalah, buku yang 1000 - 1500 dibaca oleh anak, secara tuntas, maka ia akan punya 1000-1500 imajinasi baru. Kalau anak itu diminta untuk membaca, apalagi tumbuh kebahagiaanya ketika membaca, maka itu sebuah kebahagiaan bagi kita yang mengelola anak-anak ini,” urainya.

 

Aminudin juga mengajak dan mengingatkan para peserta, pengelola sekolah rakyat, bahwa mereka memiliki peluang besar untuk mewujudkan cita-cita Presiden, yaitu memutus rantai kemiskinan, melalui peningkatan kecerdasan. Dalam hal ini, ia menegaskan, adalah kecerdasan literasi.

 

“Kecerdasan hanya bisa dibangun dengan membaca, tidak ada orang yang tiba-tiba pandai tanpa membaca. Literasi yang tinggi, masyarakat yang maju akan terwujud. Hanya mereka yang berpikir secara literat tingkat tinggi, mereka akan maju.” tutupnya.

 

 

Penulis : Frista Maria

Dokumentasi : Andri Tri Kurnia

Editor : Dyah Sugiyanto

Galeri