Terima Kunjungan STACO dari Libya, Perpusnas Sampaikan Program Alih Aksara dan Penerjemahan Naskah Kuno
Jakarta - Humas Perpusnas. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menerima audiensi Chairman of the Board of Directors Sheikh Tahir Al-Zawi Charity Organization (STACO), Salem Abdulsalam Elarabi Ramadan, beserta jajaran. Pertemuan tersebut merupakan penjajakan kerja sama di bidang pelestarian buku-buku bersejarah, naskah kuno dan pengembangan kajian keislaman, Jumat (10/4/2026).
Salem menjelaskan bahwa Yayasan STACO yang berlokasi di Libya telah berdiri sejak 10 Oktober 2011. STACO memiliki lembaga penelitian yang berfokus pada pengelolaan naskah kuno, penelitian, serta lembaga pengembangan pembelajaran Al-Qur’an. Selain itu, yayasan ini juga didukung unit percetakan dan penerbitan yang telah aktif memproduksi karya ilmiah.
“Yayasan kami telah menghasilkan berbagai publikasi, termasuk buku biografi dan sejarah tokoh ulama besar Libya yang menjadi inspirasi berdirinya yayasan ini. Karya tersebut terdiri dari sekitar 20 jilid dengan hampir 3.000 bab pembahasan yang mencakup kajian bahasa Arab, fiqih, serta keilmuan Islam lainnya. Hingga saat ini, kami telah menerbitkan sekitar 170 judul buku, dengan lebih dari 100 di antaranya telah dicetak dan disebarluaskan di Libya,” urainya.
Dalam upaya memperluas jejaring internasional, lanjutnya, yayasan STACO berencana menggelar pameran buku di Rusia pada tanggal 20 September 2026 mendatang. Pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara seperti Suriah dan Kazakhstan, khususnya dalam bidang penelitian, penerbitan buku, dan kajian sejarah antarnegara.
“Kami berharap dapat menjalin kerja sama strategis dengan Perpusnas dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU), program penerjemahan buku, pertukaran koleksi, serta pengembangan penelitian bersama. Kami juga membuka peluang penyelenggaraan program seminar internasional yang melibatkan universitas di Libya dan partisipasi Perpusnas,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Perpusnas menyambut baik peluang kerja sama kedua belah pihak terutama dalam bentuk penerjemahan naskah kuno ke bahasa Arab dan penerbitan bersama buku anak berbasis warisan budaya. Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya memperkaya koleksi, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya melalui literasi.
Terkait pelestarian naskah kuno, Perpusnas memiliki sejumlah koleksi manuskrip yang telah diakui sebagai bagian dari program Memory of the World (MoW) oleh UNESCO. Hingga saat ini, tercatat delapan naskah kuno telah mendapatkan pengakuan internasional, sementara lainnya masih dalam proses pengajuan.
Perpusnas, lanjutnya, tengah mengembangkan program alih aksara dan penerjemahan naskah kuno ke dalam huruf Latin serta berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya. “Langkah ini diambil agar kandungan nilai dalam naskah kuno dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.
Selain itu, Aminudin menjelaskan Perpusnas melakukan transformasi naskah kuno melalui adaptasi ke dalam bentuk yang lebih populer di kalangan generasi muda, seperti misalnya buku anak, buku mewarnai dan komik. Inisiatif ini diharapkan dapat menjembatani warisan budaya masa lalu dengan kebutuhan literasi generasi masa kini.
Audiensi tersebut turut dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Informasi, Suharyanto, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Budi Kusuma Wardani, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus, Nani Suryani dan pustakawan Perpusnas. (AL/ Ed: DRS/ Dok: AKN)
Galeri







