Tidak Hanya Jadi Imbauan, Gerakan Membaca Wajib Masif dan Berkelanjutan
Jakarta - Humas Perpusnas. Kemampuan membaca masih rendah mendorong perlunya gerakan membaca yang tidak berhenti sebagai imbauan, tetapi dilakukan secara masif, terukur, dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut disampaikan penggagas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemendikbud, Satria Dharma, dalam audiensi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bertema “Tantangan Membaca Indonesia 2025: Mengubah Kebiasaan Kecil Menjadi Rekor Nasional”, Kamis (27/8/2026).
Ia menilai kebiasaan membaca perlu kembali diperkuat di lingkungan sekolah sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Satria juga menyebut GLS sebelumnya memberikan waktu kepada siswa untuk membaca dan menyediakan fasilitas baca. Menurutnya, kebiasaan tersebut penting karena membaca merupakan fondasi pendidikan.
“Membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca, pendidikan akan mati,” ujarnya.
Selain itu, Satria menyoroti kondisi kemampuan membaca siswa Indonesia berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang berada di peringkat ke-69 dari 81 negara. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih banyak siswa yang belum mencapai kompetensi membaca dasar.
Satria juga mengusulkan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan sekolah, seperti pengembangan perpustakaan kelas, reading challenge, serta one class one book.
Menanggapi gagasan tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, menilai konsep tantangan membaca relevan dengan upaya penguatan budaya baca dan kecakapan literasi yang selama ini dilakukan Perpusnas.
“Fondasi awal pendidikan adalah membaca. Paparan Bapak sangat relevan,” kata Adin.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini adalah belum adanya sistem dan kebijakan yang mendorong gerakan membaca secara masif. Karena pendidikan sekolah berada dalam ranah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Perpusnas selama ini berperan sebagai pendukung melalui pembinaan perpustakaan dan tenaga perpustakaan.
Oleh karena itu, Adin menilai gagasan reading challenge perlu didorong menjadi bagian dari kebijakan pendidikan atau kurikulum. Perpusnas juga akan mendorong pengembangan gagasan tersebut melalui pemerintah daerah dan membuka peluang penerapannya sebagai pilot project.
“Kami akan dorong ke arah sana. Mungkin akan kami buatkan pilot project, sehingga upaya-upaya tadi menjadi amplifikasi bagi pemerintah daerah,” ujarnya.
Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca (PAPPBB), Nurhadisaputra, menambahkan bahwa Perpusnas saat ini tetap menjalankan berbagai program penguatan budaya baca, antara lain membaca nyaring, Sepekan Satu Buku, Cerdas Mengulas Buku, hingga Duta Baca Indonesia.
Namun, menurutnya, program literasi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar dampaknya lebih luas dan tidak bergantung pada pemerintah semata. “Kalau gerakan ini tidak menjadi gerakan yang masif dan selalu mengandalkan pemerintah, kami pesimis akan memberikan dampak yang luar biasa. Semua elemen harus mengambil peran,” ujar pria yang akrab dipanggil Nurhadi itu.
Satria berharap gagasan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi tidak hanya dengan Kemendikdasmen, namun juga dengan Kementerian Agama serta diwujudkan dalam program bersama. Ia juga berharap audiensi tersebut menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dalam membangun budaya membaca di Indonesia.
“Saya sungguh berharap ini bukan pertemuan terakhir dan ada program yang bisa kita lakukan bersama. Kita harus terus mendorong budaya membaca,” pungkasnya.*** (SA/Ed: BS/Dok: AIF)






