Tiga Nilai Juang Infanteri untuk Penguatan Literasi
Salemba, Jakarta - Hari ini, kita bersama memperingati Hari Juang Kartika atau Hari Infanteri. Ini sebuah momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Hari ini mengingatkan kita pada keteguhan hati, keberanian, dan pengabdian tanpa pamrih para prajurit infanteri TNI Angkatan Darat yang berada di garis terdepan dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Imbauan itu disampaikan oleh Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Mariana Ginting. Ia menyampaikannya dalam amanat pembina apel pagi secara daring, Senin (15/12/2025).
Namun menurutnya, momen ini tidak hanya mengajak kita mengenang perjuangan masa lalu. “Saya juga mengajak kita semua untuk merenungkan bagaimana semangat juang itu dapat diterjemahkan dalam konteks pengabdian kita di masa kini, terutama di lingkungan Perpustakaan Nasional,” ujarnya.
Dengan tegas ia mengatakan, “Apabila Prajurit Infanteri bertugas di garis depan medan tempur, maka kita di Perpustakaan Nasional adalah prajurit yang berada di garis depan medan literasi nasional”.
“Medan kita bukan medan fisik, tetapi medan pengetahuan. Musuh kita bukan pasukan bersenjata, tetapi musuh kita adalah ketertinggalan informasi, rendahnya minat baca, hoaks dan disinformasi, serta kesenjangan literasi digital,” tambahnya.
Karena itu, menurutnya, semangat juang infanteri menjadi sangat relevan. “Nilai-nilai yang mereka junjung adalah nilai yang sangat kita perlukan untuk memperkuat Perpustakaan Nasional sebagai lembaga pembina, rujukan, penelitian, pelestarian, dan pusat literasi bangsa,” imbuhnya.
Maka dari itu, ia merinci, ada tiga nilai juang infanteri untuk penguatan literasi di Perpustakaan Nasional, yakni keberanian, ketangguhan, dan pengabdian pada bangsa.
Keberanian prajurit infanteri, dijelaskannya, adalah keberanian menghadapi musuh tanpa ragu. “Di Perpustakaan Nasional, keberanian itu kita terjemahkan sebagai keberanian mendorong inovasi layanan, keberanian memperluas akses informasi hingga ke pelosok, keberanian mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya literasi, dan keberanian keluar dari zona nyaman birokrasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik,” urainya. “Setiap program literasi yang kita jalankan adalah bukti bahwa kita berani memperjuangkan masa depan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Terkait dengan nilai ketangguhan, menurutnya, Infanteri dikenal sebagai pasukan yang tangguh di segala medan. Demikian juga dengan Perpusnas yang terus tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Misalnya, Mariana menyebutkan, dalam hal banjir informasi dan hoaks, perubahan perilaku baca di era digital, kebutuhan layanan yang serba cepat dan adaptif. Tantangan lain yang disebutkannya, tuntutan masyarakat untuk mendapatkan bahan bacaan yang relevan, kredibel, dan mudah diakses. “Ketangguhan ini menuntut kita untuk menguasai teknologi informasi, memperkuat digitalisasi, dan meningkatkan kompetensi ASN secara berkelanjutan,” terangnya.
Mengenai nilai pengabdian pada bangsa, ia mengungkapkan, Prajurit Infanteri menghayati bahwa dirinya berasal dari rakyat dan bertugas untuk rakyat. Demikian juga Perpusnas, seluruh program, layanan, dan inovasi yang dibangun adalah bentuk pengabdian bagi masyarakat Indonesia.
Beberapa kontribusi pengabdian Perpusnas untuk bangsa yang disebutkannya antara lain, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, peningkatan kapasitas perpustakaan kelurahan, desa, dan sekolah, penyediaan koleksi deposit nasional, layanan digital iPusnas, e-resources, Bintang Pusnas, portal data, maupun layanan literasi dan pembelajaran sepanjang hayat. “Kita hadir memastikan seluruh warga negara memiliki kesempatan yang setara untuk mendapatkan pengetahuan, karena pengetahuan adalah kekuatan untuk membangun bangsa,” tandasnya.
Ia berpesan, peringatan Hari Juang Kartika ini dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak pernah berhenti. Hanya medan yang berubah, dari medan fisik menjadi medan literasi, dari perjuangan bersenjata menjadi perjuangan membangun kecerdasan bangsa. “Kita sebagai ASN Perpusnas adalah infanteri literasi yang bertugas menyalakan semangat di seluruh negeri, membentengi masyarakat dari informasi yang menyesatkan, memperkuat ekosistem literasi dari pusat hingga desa, serta memastikan bahwa tidak ada satu pun warga negara tertinggal dari akses informasi,” ajaknya.
ia menekankan, semangat perjuangan infanteri harus tercermin dalam setiap langkah. Semangat disiplin, loyalitas, kerja kolektif, dan tekad pantang menyerah patut diterapkan dalam memajukan literasi Indonesia.
“Mari kita jadikan Hari Juang Kartika sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam mengabdi melalui jalur literasi. Mari kita menjadi prajurit yang tidak hanya menjaga buku, tetapi menggerakkan pengetahuan; tidak hanya mengelola perpustakaan, tetapi membebaskan masyarakat dari ketidaktahuan. Dengan semangat juang, semangat literasi, dan semangat pengabdian, kita percaya bahwa Perpusnas dapat terus menjadi benteng sumber informasi dan pondasi kecerdasan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Reporter: Alya Charissa Aryudi
Editor: Dyah R. Sugiyanto






