TPBIS 2025 Dorong Potensi Diri dan Kesejahteraan
Jakarta – Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, secara resmi membuka kegiatan Pembekalan Fasilitator Daerah (Fasda) Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Rabu (6/8/2025).
Ia menegaskan bahwa TPBIS adalah program berkelanjutan yang telah menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui literasi. “TPBIS akan terus kita lakukan secara berkelanjutan. Terima kasih atas aksi yang dilakukan di daerah, sehingga program ini memberikan dampak dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.
Selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca, memperluas wawasan, serta mencerdaskan kehidupan bangsa. TPBIS, melalui kehadiran fasilitator daerah, perpustakaan diharapkan menjadi agen transformasi yang membangun masyarakat literat dan berpengetahuan.
Program TPBIS menjadi salah satu program prioritas nasional dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. “Penguatan budaya baca dan kecakapan literasi sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan dan pertumbuhan negara. Jika literasi rendah, maka ketimpangan sosial seperti kriminalitas, kesehatan buruk, dan rendahnya pendapatan akan meningkat,” ujar Adin.
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan Perpusnas, TPBIS berdampak signifikan dalam aspek sosial dan ekonomi. Sebanyak 85,5% pemustaka mengalami peningkatan prestasi akademik, dan 91% mengembangkan keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hingga tahun 2024, TPBIS telah menjangkau 34 provinsi, 296 kabupaten/kota, serta melibatkan lebih dari 8 juta masyarakat.
Tak hanya mendapat pengakuan nasional, TPBIS juga menarik perhatian internasional sebagai praktik baik dalam upaya pengentasan kemiskinan. “Kami akan terus semangat dan melakukan kerja baik dalam mendorong TPBIS ini berdampak dalam membangun kesejahteraan masyarakat,” tambah Adin.
Senada dengan itu, Analis Kebijakan Ahli Utama Badan Standardisasi Nasional, Puji Winarni menekankan pentingnya pemberdayaan diri (self-empowerment) sebagai kunci keberhasilan dalam transformasi perpustakaan. Ia menyebut bahwa setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda dan di tengah derasnya arus informasi, pustakawan dituntut untuk terus beradaptasi dengan kondisi masyarakat terkini.
"Pemberdayaan diri berhubungan dengan rasa percaya diri, kompetensi, pencapaian, dan pengakuan dari orang lain. Dengan kita berdaya, maka bisa mewujudkan potensi kita secara penuh. Ini adalah fondasi untuk mencapai aktualisasi diri sebagai fasilitator daerah,” jelas Puji.
Lebih dari itu, pemberdayaan diri memberikan dampak nyata terhadap produktivitas organisasi, memperkuat kolaborasi dalam tim, serta meningkatkan kepuasan kerja. Hambatan yang sebelumnya memperlambat kemajuan bisa dieliminasi karena setiap individu mampu mengambil peran dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Dengan kombinasi antara peningkatan pemberdayaan diri dan ekosistem kolaboratif, dapat membantu mendorong tujuan TPBIS, yakni mampu menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Reportase: Sonia Adelina






