Tradisi Lisan hingga Naskah Kuno Jadi Sumber Literasi Kebencanaan

Gallery image

Tradisi Lisan hingga Naskah Kuno Jadi Sumber Literasi Kebencanaan

Yogyakarta-Humas Perpusnas. Literasi kebencanaan berbasis kearifan lokal dinilai menjadi salah satu pendekatan penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dapat membantu masyarakat membaca tanda alam, memahami risiko, hingga melakukan tindakan penyelamatan secara cepat.

 

Hal tersebut dipaparkan Sekretaris Utama (Sestama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso pada kegiatan Sharing Knowledge Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-9 Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) 2026 dengan tema “Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana Untuk Ketangguhan”, Kamis (7/5/2026).

 

“Masyarakat nusantara yang hidup di wilayah yang relatif rawan bencana mengembangkan pengetahuan berbasis empiris yang kemudian dituangkan dalam bentuk produk budaya baik dalam bentuk tradisi lisan, naskah kuno, dan juga praktik-praktik budaya sebagai pendekatan yang sifatnya lebih kontekstual,” jelasnya.

 

Sestama menjelaskan salah satu contoh tradisi lisan literasi kebencanaan berbasis kearifan lokal adalah smong, yang berasal dari Simeulue, Aceh memiliki karakteristik pentransmisian lintas generasi, berbasis cerita dan nyanyian. “Pengetahuan ini terbukti efektif pada saat tsunami Aceh tahun 2004 terjadi, dimana masyarakat menuju tempat tinggi setelah merasakan gempa dan melihat air laut surut,” tuturnya.

 

Selain tradisi lisan, berbagai naskah kuno Nusantara seperti Pararaton, Babad Sangkala, Kutika, dan Palilindun mencatat fenomena kebencanaan seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, hingga gerhana matahari. Naskah-naskah tersebut memuat pengetahuan mengenai tanda alam, prediksi dampak, serta strategi adaptasi masyarakat terhadap bencana.

 

Lebih lanjut, Sestama menilai di tengah meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana akibat perubahan iklim kajian terhadap literasi bencana ini dalam naskah kuno terutama menjadi semakin relevan. Menurutnya, naskah-naskah kuno mewariskan dan  menawarkan perspektif alternatif dalam memahami bencana yang tidak hanya fokus pada aspek teknis tapi juga aspek sosial dan juga kultural.

 

Ia menambahkan, sisi integrasi antara pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern dapat menghasilkan satu pendekatan yang lebih holistik dalam manajemen bencana. “Pemahaman tentang tanda-tanda alam yang berkembang dalam kearifan lokal dapat menjadi pelengkap sistem peringatan dini yang modern,” jelasnya.

 

Selain itu,  penguatan literasi kebencanaan berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan kesadaran dan juga kesiapsiagaan masyarakat terutama di wilayah yang masih memiliki keterikatan kuat dengan tradisi-tradisi lokal. 

 

Ia juga mengutip Ahli Kebencanaan, Jessica Mercer yang menyebut bahwa pengurangan risiko bencana berkelanjutan tidak hanya mengandalkan sains modern tetapi juga perlu mengintegrasikan pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu.

 

“Kajian terhadap produk budaya tradisi lisan termasuk juga tradisi tulis dalam bentuk naskah-naskah kuno perlu dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun ketangguhan atau resiliensi dalam menghadapi bencana di masa yang akan datang,” pungkasnya. (AL/Ed:BS/Dok:AIF)

Galeri