Dekatkan Naskah Kuno Nusantara dengan Anak, Perpusnas Uji Keterbacaan Komik
Jakarta – Humas Perpusnas. Bagaimana cerita dari naskah kuno bisa menarik bagi anak-anak masa kini? Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyajikan solusinya. Perpusnas mengajak siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) membaca dan memberi masukan terhadap buku cerita dan komik yang diadaptasi dari naskah kuno Nusantara. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh masukan dari pembaca sasaran sebelum bahan bacaan disempurnakan dan disebarluaskan kepada masyarakat.
Kegiatan Uji Keterbacaan Bahan Bacaan Anak Berbasis Naskah Kuno berlangsung di Gedung Layanan Perpusnas Medan Merdeka Selatan, pada Kamis (15/10/2026). Sebanyak 40 siswa dari 9 SD dan 2 SMP di wilayah Jabodetabek mengikuti kegiatan tersebut bersama 40 pendampingnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara), Aditia Gunawan, menjelaskan bahwa bahan bacaan yang diuji merupakan hasil alih wahana naskah kuno Nusantara ke dalam bentuk buku cerita anak dan komik. Cerita-cerita tersebut diangkat dari naskah yang memuat beragam nilai sejarah dan budaya bangsa, termasuk kisah perjuangan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, serta Kakawin Sutasoma yang memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurut Aditia, uji keterbacaan menjadi kesempatan untuk menilai kesesuaian cerita dengan usia pembaca, mulai dari alur, narasi, hingga tampilan visual. Para siswa diminta membaca tiga hingga empat buku, kemudian mengisi kuesioner untuk menyampaikan tanggapan dan saran secara jujur. Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam penyempurnaan desain dan narasi sebelum memasuki tahap produksi akhir.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya menghadirkan warisan naskah Nusantara dalam bentuk yang dapat dinikmati anak-anak. Menurutnya, naskah kuno tidak hanya perlu dipelajari oleh peneliti atau akademisi, tetapi juga perlu diperkenalkan kepada generasi muda melalui bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ia juga menyampaikan bahwa pengembangan bahan bacaan berbasis naskah kuno merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya baca dan kecakapan literasi anak. Upaya tersebut diharapkan dapat terus berkembang melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk komunitas taman bacaan dan pegiat literasi. Ia juga berharap agar semakin banyak anak yang dapat mengakses cerita-cerita yang bersumber dari warisan budaya Nusantara. ***(FM/ ed:DRS/ Dok: AA)
Galeri









